Category Archives: Umum

Tips menggunakan skala penting dalam Coaching

Menskalakan Penting

Seri Tips Coaching

Menarik memperhatikan bagaimana teman-teman mendemonstrasikan scaling dalam praktek latihan di kelas, ada yang sudah tepat dan menjadi solusi untuk coachee, ada juga yang dalam penggunaannya kurang tepat sehingga yang terjadi coachee menjadi bingung atas pertanyaan skala tersebut.

Sebagaimana yang saya alami ketika baru berlatih coaching bertanya skala terlhat begitu mudah, ketika gurunda Pa Kurnia Siregar dan Bu Ina mendemonstrasikan di kelas, seketika otak jatuh cinta dengan teknik tersebut, dan kesimpulan darah muda pembelajar ini berkata bahwa ini teknik yang paling mudah dan bekerja efektif dibandingkan teknik-teknik lainnya.

Rasa-rasanya tinggal bertanya berapa skalanya saat ini dan berapa yang diinginkan lalu baam Aha moment akan terjadi, namun kenyataannya? Bak bulan merindukan pungguk, Aha moment yang ditunggu tak kunjung datang juga.

Dari situ saya coba mempelajari lebih mendalam dan menemukan asal muasal teori teknik skala ini. Dari teori yang benar saya lahirkan dalam praktek di sesi coaching, tak langsung sempurna memang, hanya patut dicoba. Dan berikut adalah beberapa catatannya sebagai tips coaching yang efektif.

 

Hati-hati menskalakan penting

Kesalahan ini sangat common, para rekan pembelajar kerap menskala penting. Biasanya yang terjadi adalah pertanyaan apa yang penting dari sebuah goal ? Lalu dilanjutkan pertanyaan bila diskalakan dari 1-10 dimana 10 itu sangat penting dan 1 tidak penting sama sekali, berapa skala pentingnya Goal Anda ?

Tidak ada yang salah dengan menskalakan penting, namun bila itu buka goalnya coachee bagaimana? Hati- hati kita malah merubah agenda menjadi bukan yang seharusnya, coachee malah mengeksplorasi area yang tidak relevan dengan agenda sesi tersebut. Memang kita akan menggunakan pertanyaan terbuka, namun apakah itu masih powerfull bila tidak relevan dengan agenda?

 

Contoh Percakapan Skala Penting yang kurang Tepat

Coach             : Apa yang Anda inginkan ?

Coachee        : Saya ingin turun berat badan 20 kg

Coach            : Oke jadi Anda turun berat badan 20 kg, lalu disesi ini apa yang ingin Anda bahas?

Coachee        : Saya ingin membahas strateginya

Coach            : Baik, apa pentingnya strategi tersebut ?

Coachee        : Selama ini saya gagal, jadi saya perlu menemukan yang tepat

Coach            : dari 1-10 seberapa penting Anda menemukan strategi yang tepat ?

Coachee        : 10

Coach            : Saat ini Anda diskala berapa ?

Coachee        : Hmmm 3 (terlihat mulai bingung)

Coach            : Lalu apa yang perlu Anda lakukan agar menjadi 10 ?

 

Nah, bisa sobat lihat terjadi eksplorasi yang sebenarnya kurang relevan, kenapaTidak relevan ? di Awal coachee menyebutkan agenda adahal menemukan strategi, lalu eksplorasi berikutnya yang dilakukan oleh Coach adalah eksplorasi bagaimana supaya nilai pentingnya menjadi 10. Pantas saja ketika ditanya skala saat ini coachee terlihat bingung, karna dirinya akan merasa ini tidak ada relevansinya.

Buat apa coachee membayar mahal sesi tersebut bila yang dieksplore hanyalah keinginan Coach. Sekali lagi ini adalah sesi dia, jadi kita bicara tentang dia, untuk dia, maunya dia, karna dia penuh dengan sumber daya

 

Contoh percakapan skala penting yang Tepat

 

Coache          : Saya mau menghafal quran 20 juz dalam 6 bulan

Coach             : Oke apa yang perlu kita bahas dalam sesi ini ?

Coachee        : Saya perlu merasakan hal ini penting, ga tau mengapa tidak ada dorongan penting dalam diri saya untuk menghafal.

Coach            : Penting seperti apa yang Anda maksud ?

Coachee        : Penting untuk bisa dilakukan setiap hari

Coach            : Bagaimana Anda mengetahui bahwa itu sudah terlihat penting ?

Coachee        : Akan ada penyesalan bila tidak saya lakukan

Coach            : Baik berapa skala pentingnya bila sampai menimbulkan penyesalan saat tak melakukan ?

Coachee        : 9 Coach

Coach            : Oke 9 ya, dan saat ini Anda merasa berapa skala pentingnya ?

Coachee        : 2 Coach

Coach            : Bagaimana Anda mendefinisikan 2 tersebut ?

Coachee        : Masih ada suara gapapa klo ga tiap hari.

Coach            : Baik saya memahami skala yang Anda maksud, kalau boleh kita eksplorasi apa yang Anda sadari sehingga skala 2 ini muncul ?

 

Hayo apa bedanya dengan percakapan sebelumnya ? Sederhana saja kalau teman-teman simak apa goalnya Coachee, goalnya adalah dia mau merasakan menghafal quran sebagai sesuatu yang penting. Artinya bila kita menskalakan pentingnya dan mengeksplorasi level pentingnya saat ini akan masih relevan dengan Goal tersebut, So ingat, menjadi seorang coach itu akan diminta pertanggung jawabannya, atas dasar apa kita mengekplorasi skala penting ?

Bila ternyata tidak ada dasarnya, hanya sekedar keinginan well disinilah tergelincir terjadi, coaching berubah agenda menjadi agenda coach bukan agenda coachee. Tentunya bukan itu yang kita inginkan.

 

Selamat berlatih

 

cyber-security-2776600_1280

Fokus pada Persiapan

(Seri 2 Tips Mengatasi Takut Bersalah)

Alhamdulillah hampir 1 dekade ini saya diberi kesempatan Allah bekerjasama dengan para trainer senior didunia training. Saya melihat dengan mata kepala sendiri apa-apa saja yang mereka lakukan dibelakang panggung. Pantas saja bila mereka masih berkarir selama belasan tahun didunia training dan memiliki klien yang semakin banyak. Seperti bunyi pepatah bijak, “Bisnis Anda takkan pernah lebih tinggi dari kapasitas Anda.” Banyak kearifan yang mereka lakukan dan tak dilakukan trainer kain. Kearifan yang mahal itu membawa saya melihat satu hal dalam diri mereka, tingginya tekanan rasa takut bersalah membuat mereka semakin gigih mempersiapkan training. Alih-alih panik dan tak menatap apa-apa, mereka larut dan asyik dalam fase persiapan seperti anak kecil yang tak bisa diganggu dengan mainannya, bahkan ketika dunia sedang tak bersahabat dengannya.

Darisitu saya belajar bahwa rasa takut bersalah perlu disadari keberadaannya, dia adalah “pengetuk pintu persiapan.” Kesadaran akan rasa takut dalam takaran yang tepat, membuat kita jadi maju melesat. Kesadaran dengan takaran yang lebih justru akan menghadirkan tekanan yang malah membuat kita tidak bergerak kemana-mana. Saya sendiri menyadari, tanpa adanya rasa takut saya hanya akan ongkang-ongkang kaki, menyusun materi seadanya, mendesain slide sekenanya, memilih kata seenaknya. Dalam level ini sadari saja “bahwa takut mu adalah pintu pengetuk persiapan mu.”

Kita move on ya, banyak loh sobat yang sebenarnya mesti kita persiapkan sebelum memulai berbicara di depan maupun sebelum memberikan training. Jadi, alih-alih sibuk memikirkan rasa takut, kita pinjam energinya untuk mempersiapkan segala sesuatu. Saya sendiri membagi persiapan menjadi dua, yaitu persiapan teknis dan persiapan non teknis. Berikut saya share secara singkat mengenai dua persiapan tersebut. InshaAllah nanti aka nada bab khusus yang membahas persiapan-persiapan tersebut.

 

Persiapan Teknis

Persiapan ini adalah persiapan yang berkaitan langsung dengan berbicara di depan umum. Persiapan ini sangat wajib Anda kuasai karna berkaitan langsung dengan performa saat berbicara. Saya menganguk betul ketika Micheal Tjandra, seorang pembawa acara berita Indonesia, yang pernah mewawancarai Bapak Barack Obama,  berkata dalam sebuah kutipan, “Tak ada pembicara yang hebat, Kecuali melakukan persiapan dengan matang.” Tak heran makanya bila anda tahu bagaimana persiapan pidato legenda Steve Jobs, konon dikatakan bahwa untuk membuat satu launching produk Apple yang berdurasi 20 menit, dibutuhkan total waktu (persiapan) 250 jam.

Waduh kalo gitu saya mau bicara 1 jam persiapan 750 jam dong Coach ? Ya ga mesti se ekstrim itu juga si, tergantung dari kadar acaranya, setidaknya dari hal tersebut kita bisa lihat sama-sama, sebenarnya kita tidak ada waktu untuk meratapi rasa takut yang berlebih, ada banyak sekali waktu yang akan Anda perlukan untuk persiapan, jadi alih-alih mengurusi rasa takut, kita sebenarnya akan disibukkan mengurusi persiapan.

Hmm oke, terus persiapan teknis itu apa aja Coach ? Yang non teknis ? Sabar dulu ya, InshaAllah kita sambung di seri berikutnya.

 

WhatsApp Image 2017-11-29 at 08.08.17

Mahalkah Harga Otak Anda ?

(Seri 1 Tips Mengatasi Rasa Takut Salah)

Teringat lelucon klasik yang menceritakan bagaimana mahalnya otak orang Indonesia. Ya tentu cerita ini hanyalah cerita jenaka, hanya saja muatan berpikir logis cukup kental dan tak bisa disepelekan. Cerita itu mengkisahkan bahwa dalam otak terdapat banyak ruang penyimpanan memori yang begitu luas, ruang tersebut berani dibayar mahal oleh calon pengguna yang sudah kekurangan ruang karna terlalu banyak berpikir dan menurut mereka otak orang Indonesia masih memiliki beberapa ruang memori yang kosong.

Dari cerita tersebut saya terkoneksi dengan pertanyaan yang bisa juga disebut pertanyaan klasik. Kenapa klasik ? Ya karna memang hampir di setiap ruang pengajaran saya bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan serupa. Entah itu pengajaran level pemula, level praktisi, sampai pada level mahir sekalipun pertanyaan klasik ini senantiasa ditanyakan. Selalu saja ada tangan yang diangkat untuk memohon izin bertanya mengenai bagaimana tips mengatasi takut salah dalam berbicara di depan umum dan juga dalam memberikan training.

Lalu dimana koneksinya ? Apa kaitannya cerita otak orang Indonesia dengan pertanyaan klasik mengenai tips ampuh mengatasi rasa takut salah coach ? Simple, saya menyimak sendiri bagaimana ternyata rasa takut bersalah menyisakan ruang yang cukup luas didalam otak. Ya, rasa takut tersebut menekan kreasi, rasa takut tersebut mencegat provokasi untuk melakukan suatu aksi, rasa takut itu menciptakan mahluk-mahluk pengecut yang hanya terdiam menatap peluang demi peluang berbicara didepan menguap begitu saja dia lewatkan.

Mungkin bila memang pasar otak itu ada, tentunya akan membuat harga otak yang tersimpan rasa takut ini jauh lebih mahal daripada otak kami para pengembara yang senantiasa berpikir bagaimana mempersiapkan penampilan agar terhindar dari rasa salah.

Ah sudahlah, daripada tercipta inflasi harga otak karna naiknya harga yang melonjak tinggi akibat rasa takut bersalah, bismillah dalam seri tips mengatasi rasa takut salah ini saya akan menshare pengalaman yang Allah titipkan untuk mengatasi rasa takut bersalah dan malah balik mencintainya.

Bagi sobat NLPers, pasti sudah memahami bahwa takut adalah sebuah STATE, dan STATE akan mempengaruhi FISIOLOGIS serta kreasi otak kita, solusinya seperti apa ?

Dalam NLL (Neuro Logical Level) dijelaskan bahwa STATE yang tak berdaya adalah karna rentetan Behaviour, Skill, Value, Belief, Identity & Spiritual yang kurang tepat.

Seri tips mengatasi rasa takut salah ini kedepan akan mengupas rentetan Behaviour, Skill, Value, Belief, Identity & Spiritual yang tepat untuk membebasi dari rasa takut salah yang membuat kita tidak produktif. 

Bagaimana Solusinya, Nantikan Episode berikutnya seri tips mengatasi rasa takut

Simak terus ya.

Salim,
Andra Hanindyo, CPC
NLP Coach

 

Not Only Speaking

0_25369_fff226b9_orig--atomicproNot only Speaking

High Impact Communication Skill Series -1-

Pertanyaan yang sering diajukan kepada saya ketika saya membawakan training bertema selling, training bertema NLP maupun Coaching adalah “Coach bagaimana cara bicara yang benar agar pelanggan/rekan kerja/anak mendengarkan kita ?”

Well, bagi saya ini sangat menarik. Kebanyakkan orang yang saya temui berpikir untuk bisa berkomunikasi efektif, mereka perlu mengetahui bagaimana cara berbicara yang efektif. Tak salah memang, hanya naluri bertanya Coach saya pun muncul, satu pertanyaan pembangkit awareness dalam diri saya terucap, “Lantas setelah mereka mempelajari teknik berbicara efektif apakah semerta-merta komunikasi mereka membaik ?”

Continue reading

WORKSHOP : The Art of Handling Objection with NLP

The art of Handling Objection with NLP 07

BAGAIMANA MENINGKATKATKAN PENJUALAN MINIMAL DUA KALI LIPAT DENGAN MENGUBAH PENOLAKAN DAN KEBERATAN MENJADI PENJUALAN ?

Familiar dengan hal-hal dibawah ini sobat :

  • Suara-suara penghambat dalam diri ketika melakukan penjualan ?
  • Di Tolak calon pembeli karena harga product terlalu mahal ?
  • Di Tolak calon pembeli karena lebih menyukain product competitor ?
  • Sulit meminta janji bertemu dengan potensial buyers ?
  • Angka penjualan yang tak kunjung meningkat karena banyaknya penolakan ? Continue reading

Definisi Coaching (ICF Based)

icflogocl

Pencarian kata kunci “coaching” di google terus mengalami peningkatan jumlah orang yang mencarinya. Seolah ingin memanfaatkan trend ini atau memang sudah menyadari betapa efektifnya peningkatan dengan coaching, beberapa penyedia jasa training pun mulai menyertakan coaching services dalam bisnis mereka. Tak luput dari itu trend ini pun di ikuti dengan maraknya beberapa orang yang mulai menyebut dirinya sebagai coach.

Continue reading

Outcome, Antara Pikiran Sadar dan Bawah Sadar

between

Outcome, antara Pikiran Sadar dan Bawah Sadar

Pada awalnya saya berpikir dan berkeyakinan bahwa goal, outcome, dan keinginan seseorang terletak pada kesadarannya (consious). Sudut pandang berpikir inilah yang membuat saya keheranan dengan adanya orang yang tidak mengetahui goals mereka, adanya seseorang yang tidak mengetahui tujuan hidup mereka, adanya seseorang yang tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan dalam hidup.

Lambat laun pemikiran tersebut mulai tergoyahkan, sesi-sesi coaching dan training yang saya lalui membuat saya mulai berpikir ulang atas keyakinan diatas. Dalam beberapa sesi coaching saya menemukan seseorang sulit menemukan apa yang betul-betul diinginkannya, ia sendiri tak tahu apa yang dituju, apa yang dinginkan, dalam hal ekstrim perlu 2-3 sesi coaching untuk memfasilitasi sahabat dengan model seperti ini. Menariknya kasus seperti ini tak hanya saya temukan satu atau dua kali, hanya sedikit sekali client dalam sesi coaching yang bisa menyatakan dengan jelas dan tepat outcomenya langsung diawal sesi. Perlu dilakukan eksplorasi mendalam dan creating awareness dalam dirinya untuk benar-benar memastikan apa sebenarnya outcome yang diinginkan. Menyikapi hal ini bisa kita lakukan dengan mengirimkan form Outcome dan refleksi berpikir terlebih dahulu kepada client sebelum dimulai sesi coaching.

Dalam pengalaman sesi training saya menemukan eksplorasi goal, tujuan hidup, dan keinginan hidup akan lebih mudah dilakukan dengan mengakses terlebih dahulu state lapang dan relaks. Ya jadi saya memfasilitasi para peserta untuk memunculkan tempat dimana mereka bisa lapang dan relaks berpikir, barulah setelah itu memikirkan goal, tujuan hidup, dan keinginan hidupnya 5 tahun mendatang. Tanpa mengakses state tersebut para peserta sulit untuk menemukan apa goal, tujuan hidup dan keinginannya untuk  5 tahun mendatang.

Michael Hall dalam salah satu modulnya meta coaching modul III “Coaching Mastery” menjabarkan bahwa struktur dasar sebuah sesi coaching adalah ; Introduction selama 2 sampai 3 menit, outcome 5 sampai dengan 60 menit, conversation 5 sampai dengan 60 menit, dan ending 3 sampai dengan 5 menit. Yang menarik adalah dalam alokasi untuk membahas outcome Micheal Hall menulis selain 5 sampai dengan 60 menit dalam kurung (what ever it takes) alias berapa lamapun waktu yang dibutuhkan. Secara tersirat menurut pemahaman saya penjelasan dalam kurung tersebut menggambarkan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menggali outcome bisa lebih dari 60 menit dan juga menggambarkan betapa pentingnya menemukan outcome terlebih dahulu berapapun alokasi waktu yang dibutuhkan.

Apa iya mas selama itu menemukan goal, outcome, keinginan hidup seseorang ? Sederhananya mengucapkan apa yang diinginkan memang mudah hanya saja menemukan apa yang benar-benar diinginkan itu yang banyak tantangannya. Seringkali ditemukan apa yang diucap dan dicap sebagai keinginan oleh seseorang ternyata bukanlah hal yang benar-benar diinginkannya.

Dalam sebuah sesi coaching, saya pernah mendapati seorang client mengucapkan outcome nya adalah mengenali tujuan hidupnya, setelah mengeksplorasi lebih dalam dan membangkitakan awarenessnya ditemukanlah bahwa sesungguhnya ia sudah mengetahui tujuan hidupnya dan outcome sesungguhnya adalah meningkatkan kepercayaan dirinya untuk menggapai tujuan hidupnya. Pengalaman serupa juga terjadi kala seorang client mengatakan outcomenya adalah menemukan cara menabung dan setelah dieksplorasi lebih mendalam ternyata dia sudah tahu cara menabung dan yang dibutuhkannya adalah bagaimana mengendalikan pengeluaran belanja.

Dari sini saya mulai  berkesimpulan bahwa menemukan tujuan hidup, apa yang dinginkan dalam hidup butuh eksplorasi lebih mendalam dan peningkatan kesadaran diri dan juga kejujuran terhadap diri sendiri serta kenyamanan untuk mengungkap apa yang sesunggguhnya diinginkan. Dan saya pun mulai berpikir jangan-jangan outcome seseorang terletak dalam pikiran bawah sadarnya, sehingga memerlukan sebuah usaha untuk membawa outcome kepada kesadaran berpikir atau yang biasa kita kenal sebagai pikiran sadar, any way ini kesimpulan singkat saya loo, lum benar-benar diuji secara terukur.

So selamat menyelami lautan outcome sobat, sadari lebih mendalam apa yang sebenarnya kita inginkan. Menyadari Outcome memang memakan waktu hanya saja percayalah setelah menemukan Outcome segalanya menjadi menghemat waktu

 

 

Tips bertanya ala coaching

Tips Menggunakan Pertanyaan ‘Mengapa’ dengan Efektif

Bertanya ternyata tak hanya sekedar memunculkan sebuah jawaban, bertanya ternyata juga mendorong seseorang untuk berpikir entah suatu pikiran yang memberdayakan atau malah tidak memberdayakan. Dalam artikel singkat ini kita akan share tips bertanya dengan efektif yang memunculkan pikiran memberdayakan dengan menggunakan ‘mengapa’. Continue reading

Building Trust Dahulu Languange Pattern Kemudian

Beberapa waktu lalu ketika melakukan sales interview di sebuah perusahaan multinasional Indonesia. Saya menginterview para sales senior di perusahaan tersebut. Tujuan dari interview ini adalah untuk meneliti kata-kata (script) yang digunakan para sales senior untuk menclosing sales ataupun untuk menghandle situasi-situasi sulit, hasil interview ini akan dijadikan acuan untuk menciptakan sales script baku sebagai panduan sales-sales junior mereka.

Continue reading